27 °C Bandung, ID
29 February 2020

Bolehkah Memberikan Zakat untuk Orang Tua dan Anak?

Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang wajib untuk dia nafkahi menurut syari’at, baik apakah itu adalah orang tuanya (dan seterusnya ke atas, seperti kakek, nenek, kakek buyut, dll), anaknya (dan seterusnya ke bawah, seperti cucu, cicit, dll), istrinya, ataupun kerabatnya yang lain.

Dalam kitab beliau yang mencantumkan ijma’ para ulama’ dalam masalah fikih, Ibnul-Mundzir an-Naisaburiy rahimahullah (w. 318 H) berkata,

وأجمعوا على أن الزكاة لا يجوز دفعها إلى الوالدين والولد، في الحال التي يجبر الدافع إليهم على النفقة عليهم.

“Para ulama’ bersepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kedua orang tua dan anak, pada kondisi di mana diwajibkan bagi si pemberi zakat tersebut untuk menafkahi mereka.” [al-Ijma’, karya Muhammad ibn Ibrahim ibnil-Mundzir, hal. 57, terbitan Maktabah al-Furqan (‘Ajman) dan Maktabah Makkah ats-Tsaqafiyyah (Ra’sul-Khaimah), cetakan kedua, tahun 1420 H]

Muwaffaqud-Din Ibn Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah (w. 620 H) menukil perkataan Ibnul-Mundzir tersebut dalam kitab fenomenal beliau al-Mughniy, kemudian beliau berkata,

ولأن دفع زكاته إليهم تغنيهم عن نفقته، وتسقطها عنه، ويعود نفعها إليه، فكأنه دفعها إلى نفسه، فلم تجز، كما لو قضى بها دينه.

“Karena memberikan zakat kepada mereka (yaitu, orang tua dan anak -penj.) membuat mereka tidak lagi membutuhkan nafkah dari si pemberi zakat. Hal ini membuat kewajiban menafkahi mereka itu menjadi gugur dan manfaat dari zakat tersebut kembali kepada dirinya sendiri, sehingga seolah dia memberikan zakat kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu, hal ini tidak dibolehkan, sebagaimana jika dia menggunakan zakat tersebut untuk membayar utangnya sendiri.” [al-Mughniy, karya ‘Abdullah ibn Ahmad Muwaffaqud-Din Ibn Qudamah al-Maqdisiy, 4/98, terbitan Dar ‘Alamil-Kutub (Riyadh), cetakan ketiga, tahun 1417 H]

(Catatan: Ibn Qudamah dalam kitab beliau al-Mughniy menukil perkataan Ibnul-Mundzir di atas lalu langsung melanjutkan dengan perkataan beliau sendiri tanpa tanda kutip ataupun pemisah yang jelas, sehingga sebagian orang menganggap perkataan Ibn Qudamah di atas sebagai lanjutan dari perkataan Ibnul-Mundzir. Yang tepat adalah sebagaimana yang kami tetapkan di atas. Wallahu a’lam.)

Akan tetapi, ijma’ ulama’ di atas berlaku jika terpenuhi tiga syarat berikut ini: [Lihat Ikhtiyarat Syaikhil-Islam Ibn Taimiyyah al-Fiqhiyyah, karya Sulaiman ibn Turkiy at-Turkiy, terbitan Kunuz Isybiliya (Riyadh), cetakan pertama, tahun 1430 H]

  1. Jika wajib bagi si pemberi zakat untuk menafkahi mereka.
  2. Jika sebab yang membuat mereka berhak mendapatkan zakat adalah kefakiran dan kemiskinan, bukan sebab lainnya.
  3. Jika yang mendistribusikan zakat adalah si pemberi zakat itu sendiri, bukan imam atau ulil-amri atau perwakilannya.

Syarat pertama: Jika wajib bagi si pemberi zakat untuk menafkahi mereka.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Qudamah, alasannya adalah agar manfaat dari zakat itu tidak kembali kepada dirinya sendiri sehingga seolah dia memberikan zakat kepada dirinya sendiri.

Selain istri, orang yang wajib untuk kita nafkahi adalah kedua orang tua (dan seterusnya ke atas) dan anak (dan seterusnya ke bawah), jika mereka dalam keadaan miskin dan kita mampu untuk menafkahi mereka.

Dalilnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ابدأ بنفسك فتصدق عليها، فإن فضل شيء فلأهلك، فإن فضل عن أهلك شيء فلذي قرابتك.

“Mulailah untuk membelanjakan harta kepada dirimu terlebih dahulu. Jika ada yang tersisa, maka untuk keluargamu. Dan jika masih ada yang tersisa, maka untuk kerabatmu.” [Diriwayatkan oleh Muslim, no. 997]

Jika kondisinya adalah orang tua (dan seterusnya ke atas) dan anak (dan seterusnya ke bawah) dalam keadaan miskin tetapi kita tidak mampu untuk menafkahi mereka, maka para ulama’ berbeda pendapat apakah boleh bagi kita untuk memberikan zakat kepada mereka.

Pendapat pertama: Tidak boleh bagi kita untuk memberikan zakat kepada mereka. Ini adalah pendapat ulama’ Hanafiyyah dan Hanabilah.

Di antara dalil yang mereka gunakan adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أنت ومالك لأبيك.

“Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibn Majah, no. 2291]

Begitu pula hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن من أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه.

“Sesungguhnya termasuk makanan yang paling enak yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil jerih payahnya sendiri, dan anaknya adalah termasuk hasil jerih payahnya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 3528]

Dalam kedua hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan harta seseorang kepada bapaknya. Maka, jika kita memberikan zakat kepada anak kita, pada hakikatnya tidak ada pemindahan kepemilikan di sini karena zakat yang kita berikan pada anak kita tersebut tetap dinisbatkan kepada kita oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula jika kita memberikan zakat kepada bapak kita, pada hakikatnya tidak ada pemindahan kepemilikan di sini dengan alasan yang sama.

Pendapat kedua: Boleh bagi kita untuk memberikan zakat kepada mereka. Ini adalah pendapat ulama’ Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Ini juga adalah salah satu pendapat di madzhab Hanbaliy.

Dalil yang mereka gunakan adalah karena orang tua dan anak tersebut berhak untuk mendapatkan zakat, yaitu karena mereka berada dalam keadaan miskin, sementara kita berada dalam keadaan tidak wajib untuk menafkahi mereka. Pada kasus ini, posisi mereka adalah sama seperti orang lain yang tidak wajib untuk kita nafkahi, sehingga ketika kita memberikan zakat kepada mereka maka manfaatnya tidak kembali kepada diri kita sendiri.

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) berkata,

ويجوز صرف الزكاة إلى الوالدين وإن علوا، وإلى الولد وإن سفل، إذا كانوا فقراء وهو عاجز عن نفقتهم لوجود المقتضى السالم عن المعارض المقاوم.

“Boleh untuk memberikan zakat kepada orang tua dan seterusnya ke atas, dan kepada anak dan seterusnya ke bawah, jika mereka dalam keadaan miskin dan dia tidak mampu untuk menafkahi mereka, karena adanya faktor pendorong yang selamat dari faktor penghalang.” [al-Fatawa al-Kubra lil-Imam al-‘Allamah Taqiyyid-Din Ibn Taimiyyah, tahqiq Muhammad ‘Abdul-Qadir ‘Atha dan Mushthafa ‘Abdul-Qadir ‘Atha, 5/373, terbitan Darul-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut), cetakan pertama, tahun 1408 H]

Tarjih: Melihat pendalilan masing-masing pendapat di atas, pendapat kedua adalah yang lebih kuat karena ‘illah atau alasan mengapa para ulama’ bersepakat untuk melarang pemberian zakat kepada orang yang wajib kita nafkahi adalah karena hal tersebut dapat berujung pada gugurnya kewajiban kita untuk menafkahi mereka sehingga manfaat dari zakat tersebut pada hakikatnya kembali kepada diri kita sendiri. Padahal, dalam syari’at Islam terdapat kaidah,

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما.

“Hukum itu berputar bersama ‘illah-nya, dalam hal ada dan tidaknya.”

Yaitu, ada dan tidaknya sebuah hukum itu bergantung pada ada dan tidaknya ‘illah-nya. Jika kita tidak wajib menafkahi kedua orang tua dan anak kita, maka di sini ‘illah-nya tidak ada, sehingga hukum larangan memberikan zakat kepada mereka pun tidak ada.

Syarat kedua: Jika sebab yang membuat mereka berhak mendapatkan zakat adalah kefakiran dan kemiskinan, bukan sebab lainnya.

Adapun jika sebabnya adalah, misalnya, karena mereka memiliki utang dan tidak mampu untuk membayarnya, maka para ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama: Tidak boleh bagi kita untuk membayarkan utang mereka dari zakat kita. Ini adalah pendapat ulama’ Hanafiyyah dan Hanabilah.

Dalil yang mereka gunakan pada dasarnya sama seperti yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi, dalam masalah ini mereka menambahkan bahwa orang yang terlilit utang itu pada hakikatnya kembali kepada kefakiran atau kemiskinan, sehingga tidak boleh bagi kita untuk membayarkan utang mereka dari zakat kita, sama seperti pada kasus sebelumnya.

Pendapat kedua: Boleh bagi kita untuk membayarkan utang mereka dari zakat kita. Ini adalah pendapat ulama’ Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Ini juga adalah salah satu pendapat di madzhab Hanbaliy.

Dalil yang mereka gunakan adalah karena orang tua dan anak tersebut berhak untuk mendapatkan zakat, yaitu sebagai orang yang terlilit utang, sementara ketika kita membayarkan zakat kepada mereka, maka harta zakat itu pada hakikatnya tidak kembali kepada diri kita sendiri karena harta tersebut akan mereka berikan kepada orang lain untuk melunasi utang mereka.

Oleh karena itu, boleh bagi kita untuk membayarkan utang mereka dari zakat kita, walaupun mereka berutang demi kemashlahatan atau kebutuhan diri mereka sendiri dan bukan dalam rangka mendamaikan manusia atau kelompok masyarakat. Namun, sesuai dengan syarat pertama yang telah dibahas di atas, hendaknya ketika kita membayarkan utang mereka dari zakat kita, hal ini tidak boleh menggugurkan kewajiban nafkah kita kepada mereka, misalnya ketika kondisinya adalah mereka berada dalam keadaan miskin dan kita mampu untuk menafkahi mereka. Dalam kondisi ini kita boleh untuk membayarkan utang mereka dari zakat kita, tetapi kita tetap wajib untuk menafkahi mereka.

Tarjih: Sebagaimana kasus sebelumnya, pendapat kedua adalah yang lebih kuat karena terpenuhinya faktor pendorong, yaitu status mereka sebagai orang yang berhak menerima zakat karena terlilit utang, dan tidak adanya faktor penghalang, yaitu bahwa harta kita tersebut tidak kembali kepada diri kita sendiri.

Syarat ketiga: Jika yang mendistribusikan zakat adalah si pemberi zakat itu sendiri, bukan imam atau ulil-amri atau perwakilannya.

Jika urusan pendistribusian zakat diatur oleh negara, maka boleh bagi imam atau ulil-amri atau perwakilannya untuk memberikan zakat tersebut kepada siapa saja yang dinilai berhak untuk menerimanya, walaupun itu adalah orang tua atau anak dari si pemberi zakat. Karena ketika pemberi zakat tersebut telah memberikan zakatnya kepada ulil-amri untuk disalurkan, maka kewajiban dan tanggung jawab si pemberi zakat telah selesai.

@ Dago, Bandung, 11 Ramadhan 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Artikel Terkait

Leave a Reply