27 °C Bandung, ID
29 February 2020

Prioritas Utama Dakwah adalah Masalah Akidah dan Tauhid

Meluruskan masalah akidah dan tauhid dan memurnikannya dari noda-noda kesyirikan adalah tugas utama para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَقَد بَعَثنا فى كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعبُدُوا اللَّـهَ وَاجتَنِبُوا الطّـٰغوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.” [Surat an-Nahl: 36]

Oleh karena itu, tidaklah tepat bagi seorang da’i jika dia kurang memperhatikan masalah akidah dan tauhid dalam dakwahnya. Padahal, ketika kita melihat pada realita, maka akan kita dapatkan masih banyak kesyirikan dan kekufuran, baik akbar maupun ashghar, yang terjadi di kalangan masyarakat. Misalnya, dia hanya memfokuskan dakwahnya pada bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang tidak mau tamadzhub (bermadzhab), tetapi tidak perhatian sama sekali dengan upaya memurnikan akidah dan tauhid.

Na’am, kita katakan bahwa sebagian orang telah terjatuh pada kesalahan ketika mereka menganggap bahwa bermadzhab itu tidak boleh, atau ketika mereka berkata bahwa bermadzhab itu berarti menjadikan para imam madzhab sebagai nabi baru. Mereka berkata, “Mengapa kita tidak mengambil hukum langsung dari sumbernya, yaitu dari Qur’an dan Sunnah? Mengapa kita harus taqlid pada para imam madzhab yang mereka itu tidak ma’shum?” Padahal, yang namanya orang awam, walaupun dia bertekad untuk mengambil hukum langsung dari sumbernya yaitu Qur’an dan Sunnah, yang sebenarnya terjadi adalah dia mengambil hukum dari penjelasan gurunya ketika menerangkan dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah. Dan ini juga adalah taqlid.

Sebagian orang berkata, “Mengapa mereka memilih pendapat lain yang bertentangan dengan hadits, padahal jelas-jelas haditsnya ada?” Kita katakan: Karena untuk menjadikan sebuah hadits sebagai hujjah, maka tidak hanya diperlukan “ada haditsnya” saja, tetapi juga bagaimana status haditsnya. Dan yang dimaksud dengan status hadits di sini adalah tidak hanya masalah shahih atau dha’ifnya (yang ini dibahas di ilmu ushul hadits), tetapi juga apakah ada aspek dalam sanad hadits tersebut yang membuatnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (yang ini dibahas di ilmu ushul fiqh). Contohnya, ketika seorang perawi meriwayatkan hadits tetapi kemudian amalannya bertentangan dengan hadits yang dia riwayatkan sendiri, maka para imam madzhab memiliki posisi yang berbeda terkait status hadits tersebut. Ada yang tetap menjadikannya sebagai hujjah, karena bisa jadi perawi hadits tersebut lupa terhadap hadits yang dia riwayatkan sendiri atau khilaf sebagaimana manusia sebagai makhluk yang lemah itu sering khilaf. Akan tetapi, ada yang menolaknya sebagai hujjah, karena bisa jadi perawi tersebut salah dalam menyampaikan isi hadits tersebut. Maka, bagi ulama’ yang memilih pendapat kedua ini, mereka akan memilih untuk berhujjah dengan dalil lain karena memperhatikan lemahnya status hadits tersebut sebagai hujjah, walaupun “haditsnya itu ada”. Itu juga alasan mengapa sebagian ulama’ memilih untuk tidak melakukan qunut shubuh (dan inilah pendapat yang kami condong kepadanya). Haditsnya memang ada, tetapi bagi mereka status haditsnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Bukankah argumen anda ketika berkata, “Mengapa memilih pendapat yang bertentangan dengan hadits padahal haditsnya ada?” akan berbalik menyerang anda sendiri dalam kasus ini?

Taqlid itu ada dua jenis. Jenis pertama adalah taqlid yang tidak bisa dihindari oleh orang awam, yaitu taqlidnya pada gurunya atau ustadznya atau syaikhnya atau kiyainya. Sebagai orang awam, dia tidak bisa menyimpulkan hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah. Dia tentu masih butuh guru yang menjelaskan kepadanya permasalahan akidah, tauhid, dan ibadah. Dia belum melahap ilmu nahw dan sharf sehingga tidak bisa berbahasa Arab, belum mempelajari ushul fiqh sehingga tidak mampu untuk menyimpulkan hukum langsung dari dalil, belum menyentuh sama sekali ushul hadits sehingga tidak mampu membedakan mana hadits yang shahih dan yang dha’if. Orang seperti ini tentu tidak mungkin bisa mengambil hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah. Hal maksimal yang bisa dia lakukan adalah mengikuti penjelasan gurunya. Apa yang gurunya nilai sebagai pendapat yang benar atau pendapat yang rajih, maka itulah yang akan dia ikuti. Pada hakikatnya, ini adalah taqlid, tetapi ini adalah taqlid yang diperbolehkan karena memang tidak bisa dihindari oleh orang awam. Adapun taqlid jenis kedua adalah taqlid yang tercela, yaitu ketika seseorang mengikuti pendapat orang lain secara fanatik buta. Inilah taqlid yang dilarang oleh para ulama’.

Betul, dewasa ini memang semakin banyak orang yang salah paham dan terjatuh dalam masalah ini. Tetapi, hendaknya seorang da’i tetap memiliki cakrawala yang luas dan mengetahui prioritas. Dakwah untuk memurnikan masalah akidah dan tauhid masih sangat dibutuhkan oleh umat. Kami akhiri dengan perkataan Ibn Abil-‘Izz rahimahullah ketika beliau menerangkan tentang pentingnya masalah akidah,

فإنه لما كان علم أصول الدين أشرف العلوم، إذ شرف العلم بشرف المعلوم — وهو الفقه الأكبر بالنسبة إلى فقه الفروع، ولهذا سمى الإمام أبو حنيفة رحمه الله تعالى ما قاله وجمعه في أوراق من أصول الدين “الفقه الأكبر” — وحاجة العباد إليه فوق كل حاجة، وضرورتهم إليه فوق كل ضرورة، لأنه لا حياة للقلوب ولا نعيم ولا طمأنينة إلا بأن تعرف ربها ومعبودها وفاطرها بأسمائه وصفاته وأفعاله.

“Ketika ilmu ushulud-din (akidah) itu adalah ilmu yang paling mulia, karena kemuliaan sebuah ilmu itu bergantung pada kemuliaan apa yang dipelajari dalam ilmu tersebut — itulah fiqh akbar jika dibandingkan dengan fiqh furu’ (yaitu, fiqh yang berkaitan dengan tata cara melakukan amalan ibadah -penj.), oleh karena itu, Imam Abu Hanifah rahimahullah menamakan apa yang beliau tulis sebagai “fiqh akbar” — dan kebutuhan para hamba terhadapnya adalah di atas kebutuhan-kebutuhan lainnya, urgensi mereka terhadapnya adalah di atas urgensi-urgensi lainnya, karena tidak ada kehidupan bagi hati dan tidak pula ada kenikmatan dan ketenangan, kecuali jika hati tersebut mengetahui Rabb-nya, sesembahannya, dan penciptanya dengan Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya, dan Perbuatan-Perbuatan-Nya.” [Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, karya ‘Aliy ibn ‘Aliy ibn Muhammad ibn Abil-‘Izz ad-Dimasyqiy]

Semoga bermanfaat.

@ Dago, Bandung, 10 Rabi’ul-Akhir 1441

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Artikel Terkait

Leave a Reply