27 °C Bandung, ID
29 February 2020

Prinsip-Prinsip Mengenali Mereka yang Tidak Radikal

1. Sama penampilannya belum tentu sama pemahamannya.

Walaupun sama-sama berjenggot dan bercelana di atas mata kaki bagi laki-laki atau sama-sama bercadar dan berjilbab lebar bagi perempuan, tetapi pemahamannya bisa jadi sangat jauh berbeda. Itu karena radikalisme bersumber dari keyakinan atau pemahaman, bukan penampilan luarnya. Apalagi jenggot, celana di atas mata kaki, cadar, dan jilbab lebar itu termasuk hal yang disyari’atkan di dalam agama dan telah dijelaskan di dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Istiqamah menjalankan perintah agama itu bukan radikal.

Misalnya, istiqamah untuk shalat lima waktu berjama’ah ke masjid itu bukanlah indikator radikalisme. Tetapi, itu adalah indikator keshalihan dan ketakwaan seseorang. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Shalat berjama’ah lebih baik 27 derajat dibandingkan shalat sendirian.” [Muttafaqun ‘alaihi] Merupakan hal yang lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika kita mengaitkan ibadah yang disyari’atkan oleh-Nya dengan radikalisme.

3. Nikmat aman adalah tuannya nikmat-nikmat dunia.

Jika tidak ada nikmat aman, maka kita tidak akan bisa tidur di malam hari dan bekerja di siang hari. Itu mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan nikmat aman dan hidayah kepada orang-orang yang bertauhid, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [Surat al-An’am: 82].

4. Mendengar dan ta’at pada pemerintah dalam perkara yang ma’ruf.

Sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku mewasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar, dan ta’at (pada ulil-amri), walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.” [Muttafaqun ‘alaihi] Prinsip yang berlaku di sini adalah kaidah mashlahat dan madharat, yaitu bahwa madharat dari memberontak kepada pemerintah dan memprovokasi rakyat, yang ini akan mengganggu stabilitas negeri dan menghilangkan nikmat aman, itu lebih besar daripada madharat yang diakibatkan oleh kezhaliman penguasa, jika ia zhalim.

5. Berdakwah itu dalam rangka mengajarkan agama.

Bukan untuk mencari dan merekrut ‘anggota’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan ilmu dan hujjah, baik aku dan orang-orang yang mengikutiku.'” [Surat Yusuf: 108] Maka, dakwah adalah mengedukasi umat dan mengajarkan agama kepada mereka dengan ilmu dan hujjah. Sebutkan dalil-dalilnya dan jelaskan pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in dalam memahami dalil-dalil tersebut. Jika dakwah kita diterima, maka alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya memang hanya Allah yang memberikan hidayah.

6. Menjelaskan haramnya sesuatu itu dalam rangka nasihat.

Bukan untuk sembarangan mengecap dan melabeli pelakunya. Seorang da’i hendaknya mengajarkan secara santun dan ilmiah apa saja perbuatan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa saja perbuatan yang tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa saja perbuatan yang merupakan kekufuran. Menjelaskan ini semua bukanlah bentuk memecah belah umat, bahkan ini adalah bentuk kasih sayang kepada umat agar mereka dapat terhindar dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

7. Perbedaan harus disikapi secara ilmiah.

Bukan dengan menggunakan kekerasan dan membubarkan kajian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” [Surat an-Nisa’: 59] Kembali kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan kembali kepada Qur’an dan Sunnah, yaitu kembali kepada dalil dan menjelaskannya secara ilmiah.

8. Hukum asal seorang muslim adalah shalih dan lurus akidahnya.

Baru jika nantinya kita mengetahui ada kesalahan dan kekurangan darinya, maka kita nasihati dengan lembut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat seperti kita, menghadap kiblat kita, dan memakan hewan kurban kita, maka ia adalah seorang muslim yang mendapatkan penjagaan dari Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah mengkhianati Allah dengan mengkhianati orang yang mendapatkan penjagaan dari-Nya.” Ini berbeda dengan sebagian orang yang baru bersikap baik setelah dia memastikan bahwa orang tersebut ‘satu kelompok’ dengannya.

@ Pusdiklat SDM Ketenagakerjaan, Jakarta Timur, 27 Dzul-Hijjah 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Artikel Terkait

Leave a Reply