27 °C Bandung, ID
29 February 2020

Makna Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallaah

Kalimat tauhid لا إله إلا الله (Laa ilaaha illallaah) bermakna: Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah.

Dialah Allah, yang menciptakan seluruh makhluk, alam semesta dan seisinya. Tidak ada dzat yang dapat menciptakan itu semua melainkan Allah.

Dialah Allah, yang mengatur seluruh urusan dalam jagad raya ini, yang menghidupkan dan mematikan, dan yang memberikan rezeki kepada makhlukNya. Tidak ada dzat yang dapat melakukan itu semua melainkan Allah.

Itu mengapa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَإِلَـهُكُمْ إِلَـهٌ وَاحِدٌ لَّا إِلَـهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَـنُ الرَّحِيمُ * إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّـهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ}

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Satu. Tidak ada yang berhak untuk diibadahi melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah keringnya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan perputaran angin dan awan di antara langit dan bumi, sungguh adalah tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan.” [Surat al-Baqarah, 163-164]

Adapun sesuatu yang tidak bisa menciptakan apapun sama sekali, yang tidak bisa mengatur kesudahan dirinya sendiri terlebih lagi seluruh urusan dalam alam semesta ini, yang tidak bisa menghidupkan dan mematikan, dan juga tidak bisa memberikan rezeki, maka dia tidak berhak untuk diibadahi, baik apakah dia adalah seorang malaikat, nabi/rasul, orang shalih, jin, matahari, bulan, pohon, batu, atau apapun itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّـهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ}

“(Allah) memasukkan malam ke dalam siang (sehingga bertambahlah siang sesuai apa yang berkurang dari malam) dan memasukkan siang ke dalam malam (sehingga bertambahlah malam sesuai apa yang berkurang dari siang), dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Rabb kalian, kepunyaanNya-lah kerajaan seluruhnya. Adapun orang-orang yang kamu seru (berdoa kepada) selain Allah tidaklah memiliki apa-apa walaupun setipis qithmir (kulit tipis halus yang menutupi biji kurma).

Jika kamu berdoa kepada mereka, tidaklah mereka dapat mendengarkan doamu. Dan kalaupun mereka mendengar, tidaklah mereka dapat mengabulkan doamu. Dan di hari kiamat mereka akan berlepas diri dari kesyirikanmu. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan yang lebih benar kepadamu (wahai Muhammad) daripada Dzat yang Maha Mengetahui.” [Surat Fathir: 13-14]

Itu mengapa tidak boleh bagi kita untuk beribadah kepada Nabi ‘Isa (Yesus) dan ibu beliau Maryam ‘alaihimas-salam dan menganggap mereka sebagai tuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَإِذْ قَالَ اللَّـهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللَّـهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ}

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai ‘Isa ibn Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ ‘Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib.’” [Surat al-Ma’idah: 116]

Ketahuilah bahwa selain kita harus mengetahui makna kalimat tauhid bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, kita juga harus mengetahui mana saja perbuatan yang merupakan amalan ibadah. Jika tidak, maka bisa jadi kita terjatuh pada jurang kesyirikan, yaitu dengan melakukan sebuah perbuatan yang kita arahkan kepada selain Allah, padahal perbuatan itu adalah ibadah sehingga wajib untuk ditujukan hanya kepada Allah.

Contoh perbuatan ibadah adalah berdoa. Wajib bagi kita untuk berdoa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita berdoa kepada selainNya, seperti kepada orang shalih, maka ini adalah kesyirikan. Bahkan jika kita berdoa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling mulia, nabi dan rasul yang paling agung posisinya di Sisi Allah, maka ini juga adalah kesyirikan.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sebagian dari kaum muslimin dengan berdoa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah sebuah kesyirikan. Misalnya, shalawat Nabi berikut ini yang oleh sebagian orang dianjurkan untuk dibaca sebagai amalan harian,

الصلاة والسلام عليك وعلى آلك يا سيدي يا رسول الله أغثني سريعا بعزة الله.

“Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada engkau dan keluarga engkau wahai tuanku, wahai Rasulullah. Tolonglah aku segera dengan ‘izzah Allah.”

Terdapat doa dalam shalawat di atas, yaitu meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah doa yang ditujukan kepada selain Allah, sehingga hal ini merupakan kesyirikan.

Sebagian orang bahkan mengarahkan doa di atas kepada Syaikh ‘Abdul-Qadir al-Jailaniy rahimahullah, misalnya dalam lafazh berikut ini,

الصلاة والسلام عليك يا سيدي الشيخ عبد القادر الجيلاني محبوب الله، أنت صاحب الإجازة، إجازة محمد، محمد إجازة الله، وأنت صاحب الكرامة، كرامة محمد، محمد كرامة الله، وأنت صاحب الشفاعة، شفاعة محمد، محمد شفاعة الله، الصلاة والسلام عليك يا سيدي الشيخ عبد القادر الجيلاني أغثني سريعا بعزة الله.

“Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada engkau wahai tuanku, Syaikh ‘Abdul-Qadir al-Jailaniy, orang yang dicintai Allah. Engkau adalah pemilik ijazah, ijazah Muhammad, Muhammad adalah ijazah Allah. Engkau adalah pemilik karamah, karamah Muhammad, Muhammad adalah karamah Allah. Dan engkau adalah pemilik syafa’at, syafa’at Muhammad, Muhammad adalah syafa’at Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada engkau wahai tuanku, Syaikh ‘Abdul-Qadir al-Jailaniy, tolonglah aku segera dengan ‘izzah Allah.”

Contoh kesyirikan lainnya adalah ketika seseorang melewati tempat angker atau pindah ke sebuah rumah baru, dia mengucapkan kata “permisi” atau meminta izin kepada jin penunggu tempat tersebut agar tidak diganggu. Padahal, isti’adzah atau meminta perlindungan itu adalah ibadah, sehingga mengarahkannya kepada selain Allah adalah sebuah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا}

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” [Surat al-Jinn: 6]

Dari beberapa contoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata kesyirikan itu tidak hanya berupa menyembah berhala saja! Akan tetapi, semua bentuk mengarahkan ibadah kepada selain Allah itu adalah perbuatan syirik.

Itu mengapa makna yang mencakup kandungan kalimat tauhid secara lebih lengkap adalah “tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah”, dan bukan sekedar “tidak ada tuhan selain Allah”. Karena ketika kita sekedar memahami kalimat tauhid dengan makna yang kedua tersebut, maka orang yang bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh shalawat yang mengandung kesyirikan itu tidak akan merasa bahwa dia sedang melakukan kesyirikan selama dia tetap meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Demikian pula, orang yang meminta izin kepada jin penunggu sebuah tempat itu tidak akan merasa bahwa dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan selama dia tidak meyakini bahwa jin penunggu itu adalah tuhan. Padahal, mereka berdua telah mengarahkan ibadah kepada selain Allah, dan itulah hakikat kesyirikan.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mempelajari akidah dan tauhid secara terperinci agar kita mengetahui mana yang merupakan ibadah dan mana yang tidak, sehingga dengannya kita bisa membedakan mana yang tauhid dan mana yang syirik.

@ Dago, Bandung, 19 Ramadhan 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Artikel Terkait

Leave a Reply