Makna dan Macam-Macam Tauhid

Kata tauhid dalam bahasa Arab bermakna menjadikan sesuatu sebagai satu. Adapun dalam syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Kata ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz ibn Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman,

(إنك تأتي قوما أهل كتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه إلى أن يوحدوا الله).

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum ahli kitab. Maka jadikanlah hal pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka menauhidkan Allah.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada Mu’adz ibn Jabal,

(فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله).

“Jadikanlah hal pertama yang engkau dakwahkan adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Maka, dapat kita simpulkan bahwa tauhid adalah intisari dari kalimat syahadat, yaitu bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Ketika kita menelaah dalil-dalil Qur’an dan Sunnah yang membicarakan tentang tauhid, kita dapat melihat bahwa pembahasan tauhid terbagi menjadi tiga macam.

Pertama: Tauhid Rububiyyah.

Tauhid rububiyyah adalah menauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu, kita meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta, memberikan rezeki kepada makhluk, mengatur urusan-urusan dalam alam semesta, menghidupkan dan mematikan para makhluk, dan memberikan manfaat dan madharat kepada mereka. Tidak ada yang dapat melakukan ini semua kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua: Tauhid Uluhiyyah.

Tauhid uluhiyyah adalah menauhidkan Allah dengan perbuatan-perbuatan makhluk yang dilakukan dengan niat taqarrub. Yang dimaksud dengan perbuatan yang dilakukan dengan niat taqarrub adalah ibadah. Dengan demikian, tauhid uluhiyyah adalah bahwa kita mengarahkan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada umumnya, kaum muslimin mengetahui prinsip dan kaidah yang agung ini. Akan tetapi, di antara mereka masih ada yang belum mengetahui apa saja yang merupakan ibadah sehingga mereka mengarahkannya kepada selain Allah dan karena itu mereka terjatuh pada kesyirikan. Itu mengapa kita harus selalu semangat belajar agama terutama ilmu akidah dan tauhid sehingga kita terhindar dari kesyirikan, baik itu syirik akbar maupun ashghar, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Ketiga: Tauhid Asma’ wa Shifat.

Tauhid asma’ wa shifat adalah menauhidkan Allah dengan Nama-Nama-Nya yang mulia dan Sifat-Sifat-Nya yang sempurna. Yaitu, kita meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki Nama-Nama yang mulia dan Sifat-Sifat yang sempurna tersebut dan tidak ada yang serupa dan semisal dengan-Nya. Adapun jika makhluk memiliki sifat yang sama dengan Allah, maka itu hanya kesamaan dalam nama sifatnya saja, tetapi tidak dalam hakikat sifatnya.

Misalnya, Allah memiliki Tangan dan makhluk memiliki tangan. Akan tetapi, yang sama hanya nama sifatnya saja, yaitu tangan, sedangkan hakikat Tangan Allah dan hakikat tangan makhluk itu berbeda. Sifat Allah itu sempurna dan sesuai dengan Kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun sifat makhluk maka penuh kekurangan dan sesuai dengan rendahnya derajat makhluk.

Perlu kita ketahui di sini bahwa kata “sifat” dalam bahasa Arab itu tidak sepadan dengan kata “sifat” dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, selain mencakup apakah khusyu’ atau tidak, lama atau tidak, dan yang semisalnya, sifat shalat itu juga mencakup takbiratul-ihram, berdiri, ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dll. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, sifat shalat itu hanya mencakup apakah khusyu’ atau tidak, lama atau tidak, dan yang semisalnya.

@ Pusdiklat SDM Ketenagakerjaan, Jakarta Timur, 27 Dzul-Hijjah 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Leave a Reply

Scroll to Top