Kesyirikan dan Ghuluw dalam Qashidah Burdah

Qashidah Burdah karya al-Bushiriy adalah sya’ir pujian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat terkenal di tanah air. Banyak orang yang membacanya dan tidak sedikit orang yang menghafalnya. Sebagian besar dari mereka tidak paham maknanya atau kandungannya. Padahal, di dalam qashidah ini terdapat beberapa kesyirikan kepada Allah dan ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini kami contohkan empat bait yang mengandung hal tersebut.

Pertama: al-Bushiriy berkata,

ولا التمست غنى الدارين من يده

إلا استلمت الندى من خير مستلم

“Dan tidaklah aku memohon kecukupan dunia-akhirat dari tangannya

kecuali aku mendapatkan kemurahan dari Sang Maha Pemberi”

[Qashidatul-Burdah, karya al-Bushiriy, bag. 5, bait 10]

Pada bait ini al-Bushiriy memohon kecukupan dunia-akhirat dari tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

{فَابْتَغُوا عِندَ اللَّـهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ}

“Maka mintalah rezeki di Sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepadaNya.” [al-Qur’an, surat al-‘Ankabut: 17]

Kedua: al-Bushiriy berkata,

إن لم يكن في معادي آخذا بيدي

فضلا وإلا فقل يا زلة القدم

“Jika di akhirat Nabi tak ulurkan tangan menolongku

sebagai keutamaan, maka katakanlah: ‘Wahai orang yang tergelincir kakinya'”

[Qashidatul-Burdah, karya al-Bushiriy, bag. 9, bait 8]

Yakni, jika di akhirat Nabi tak ulurkan tangan menolongnya, maka dia akan tergelincir ke dalam malapetaka.

Pada bait ini, jika al-Bushiriy meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang memberinya pertolongan agar terhindar dari kesusahan di akhirat, maka ini adalah kesyirikan karena yang berhak atas hal itu hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firmanNya,

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ * ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ * يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّـهِ}

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari ketika seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu ada pada Allah.” [al-Qur’an, surat al-Infithar: 17-19]

Sedangkan jika yang dimaksud dengan bait di atas adalah meminta syafa’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa meminta syafa’at kepada orang yang sudah meninggal itu adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّـهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّـهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ}

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di Sisi Allah.’ Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya baik di langit maupun di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka mempersekutukan itu.'” [al-Qur’an, surat Yunus: 18]

Pada ayat ini, Allah menyebut tindakan mereka meminta syafa’at kepada sesuatu selain Allah yang tidak bisa memberikan madharat ataupun manfaat sama sekali itu sebagai kesyirikan.

Sebagian orang berkata bahwa bait di atas adalah bukan berdoa meminta syafa’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi sekedar mengabarkan bahwa jika kita tidak termasuk dalam syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu adalah malapetaka.

Kita katakan: Terkadang doa itu dipanjatkan tidak dengan lafazh permohonan, tetapi dengan lafazh syarat, sebagaimana doa Nabi Nuh ‘alaihis-salam, [Lihat Taisirul-‘Azizil-Hamid fiy Syarhi Kitabit-Tauhid, karya Sulaiman ibn ‘Abdillah Alu Syaikh, hal. 420, tahqiq Usamah ibn ‘Athaya ibn ‘Utsman al-‘Utaibiy, terbitan Darush-Shumai’iy (Riyadh), cetakan pertama, tahun 1428 H]

{وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ}

“Jika Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak merahmatiku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [al-Qur’an, surat Hud: 47]

Ketiga: al-Bushiriy berkata,

يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به

سواك عند حلول الحادث العمم

“Wahai makhluk yang paling mulia, tidak ada orang tempat perlindungan hamba

selain engkau kala huru-hara kiamat melanda semua manusia”

[Qashidatul-Burdah, karya al-Bushiriy, bag. 10, bait 1]

al-Bushiriy menegaskan bahwa tidak ada tempat perlindungan di akhirat kelak selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, laa haula wa laa quwwata illa billah!

Muhammad ibn ‘Aliy asy-Syaukaniy rahimahullah, penulis kitab Nailul-Authar yang sangat terkenal di tanah air, berkata,

فانظر كيف نفى كل ملاذ ما عدا عبد الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، وغفل عن ذكر ربه ورب رسول الله صلى الله عليه وسلم، إنا لله وإنا إليه راجعون.

“Maka lihatlah bagaimana (al-Bushiriy) menafikan semua tempat perlindungan kecuali hamba dan rasul Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lupa untuk menyebutkan Rabbnya dan Rabb dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!” [Lihat Qawadih ‘Aqadiyyah fiy Burdatil-Bushiriy, karya ‘Abdul-‘Aziz ibn Muhammad Alu ‘Abdil-Lathif]

Keempat: al-Bushiriy berkata,

فإن من جودك الدنيا وضرتها

ومن علومك علم اللوح والقلم

“Di antara kemurahanmu adalah dunia dan akhirat baka

dan di antara ilmumu adalah ilmu lauh dan pena”

[Qashidatul-Burdah, karya al-Bushiriy, bag. 10, bait 3]

Perhatikan bagaimana al-Bushiriy mengatakan bahwa dunia dan akhirat itu adalah kemurahan atau pemberian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah ghuluw (berlebih-lebihan) kepada beliau, karena dunia dan akhirat adalah kemurahan atau pemberian dari Allah, bukan dari NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, perhatikan bagaimana al-Bushiriy menisbatkan ilmu ghaib, yaitu ilmu tentang al-Lauhul-Mahfuzh dan ilmu tentang pena yang diperintahkan oleh Allah untuk menuliskan semua kejadian di dunia ini dari awal hingga akhir di al-Lauhul-Mahfuzh, kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, menisbatkan pengetahuan tentang ilmu ghaib kepada selain Allah itu adalah kesyirikan!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّـهُ}

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” [al-Qur’an, surat an-Naml: 65]

Apa itu perkara yang ghaib? Ia adalah perkara yang tidak diketahui melalui kelima panca indera, seperti perkara masa depan, perkara akhirat, dan termasuk di dalamnya perkara tentang al-Lauhul-Mahfuzh dan tentang pena yang menuliskan kejadian-kejadian di dalamnya. Menisbatkan pengetahuan tentang perkara-perkara ghaib ini kepada selain Allah adalah kesyirikan.

Demikianlah beberapa contoh kesyirikan kepada Allah dan ghuluw (berlebih-lebihan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Qashidah Burdah karya al-Bushiriy. Jika kita selama ini biasa membacanya, maka kami sarankan untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Jika kita selama ini tidak tahu bahwa ia ternyata mengandung kesyirikan dan ghuluw, maka semoga Allah mengampuni kita jika setelah ilmu datang kita langsung berhenti dan bertaubat kepada Allah. Semoga Allah anugerahi kita semua pemahaman yang benar dan lurus dalam agama.

@ Desa Plakpak, Pamekasan, Madura, 1 Syawwal 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Leave a Reply

Scroll to Top