Keikhlasan Imam asy-Syafi’iy dalam Mencari Kebenaran

Imam asy-Syafi’iy rahimahullah berkata,

ما ناظرت أحدا قط إلا على النصيحة.

“Tidaklah aku berdiskusi dengan seorang pun kecuali di atas ketulusan.”

Beliau juga berkata,

ما ناظرت أحدا قط إلا أحببت أن يوفَّق ويسدَّد ويعان، ويكون عليه رعاية من الله وحفظ، وما ناظرت أحدا إلا ولم أبال، بيَّن الله الحقَّ على لساني أو لسانه.

“Tidaklah aku berdiskusi dengan seorang pun kecuali aku ingin agar dia diberikan taufiq, diberikan petunjuk, diberikan pertolongan (untuk mengetahui kebenaran -penj.), dan agar dia mendapatkan pemeliharaan dan penjagaan dari Allah. Tidaklah aku berdiskusi dengan seorang pun kecuali aku tidak peduli, apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya.”

Disebutkan bahwa ketika Imam asy-Syafi’iy berdiskusi dengan Abu ‘Ubaid tentang makna qur’ pada ayat 228 surat al-Baqarah, Imam asy-Syafi’iy berpendapat bahwa maknanya adalah haidh, sedangkan Abu ‘Ubaid berpendapat bahwa maknanya adalah suci (yakni, dari haidh -penj.). Hasil dari diskusi ini adalah keduanya berpisah dengan Imam asy-Syafi’iy akhirnya memilih pendapat Abu ‘Ubaid, sedangkan Abu ‘Ubaid akhirnya memilih pendapat Imam asy-Syafi’iy, karena masing-masing dari keduanya terpengaruh oleh dalil-dalil yang dibawakan oleh rekan diskusinya tersebut.

[Disarikan dari kitab ‘Aqidatul-Imam asy-Syafi’iy min Nushushi Kalamihi wa Idhahi Ash-habih, karya ‘Abdullah ibn ‘Abdil-‘Aziz al-‘Anqariy]

@ Desa Plakpak, Pamekasan, Madura, 1 Syawwal 1440 H

Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Leave a Reply

Scroll to Top