21 °C Bandung, ID
17 February 2020

Bolehkah Jual-Beli Emas untuk Mendapatkan Keuntungan

Bolehkah kita membeli emas ketika harganya sedang turun, kemudian menjualnya kembali ketika harga emas sedang naik sehingga kita mendapatkan keuntungan darinya?

Sebagian orang mengatakan bahwa membeli emas itu adalah untuk investasi jangka panjang, bukan untuk diperjualbelikan dalam jangka pendek demi mendapatkan keuntungan.

Namun, secara syari’at, berdagang emas untuk meraih keuntungan darinya dengan cara seperti yang disebutkan di atas adalah transaksi yang dibolehkan, dengan syarat transaksinya harus dilakukan secara tunai (kontan, tidak kredit) dan emas tersebut langsung diserahkan kepada pembeli pada saat itu juga.

Ditanyakan kepada Syaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz rahimahullah tentang apakah dibolehkan untuk membeli emas ketika harganya sedang turun, kemudian menjualnya kembali ketika harganya sedang naik, selama kedua transaksi ini dilakukan secara tunai dan serah terima emas dan harganya dilakukan pada saat itu juga. Beliau rahimahullah menjawab,

لا حرج في المعاملة المذكورة إذا كان ذلك يدا بيد كما ذكرت في السؤال لحديث عبادة بن الصامت رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل سواء بسواء يدا بيد، فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد).

“Tidak ada masalah tentang mu’amalat yang disebutkan tersebut jika hal itu dilakukan secara kontan seperti yang anda sebutkan di pertanyaan, berdasarkan hadits ‘Ubadah ibn ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, ‘Emas (ditukar) dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, garam dengan garam, maka harus sama ukuran dan takarannya dan harus tunai. Jika jenisnya berbeda, maka juallah sebagaimana yang kamu kehendaki dengan syarat harus tunai.’” [Fatawa Islamiyyah, karya Muhammad ibn ‘Abdil-‘Aziz al-Musnad, 2/351, terbitan Darul-Wathan (Riyadh), cetakan kedua, tahun 1413 H]

Ketika ditanyakan pertanyaan yang serupa, yaitu tentang kehalalan penambahan nilai emas yang didapatkan antara harga jual sekarang dan harga belinya di waktu yang lalu, Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab,

هذه الزيادة لا بأس بها ولا حرج، وما زال المسلمون هكذا في بيعهم وشرائهم، يشترون السلع وينتظرون زيادة القيمة، وربما يشترونها لأنفسهم للاستعمال ثم إذا ارتفعت القيمة جدا ورأوا الفرصة في بيعها باعوها مع أنهم لم يكن عندهم نية في بيعها من قبل، والمهم أن الزيادة متى كانت تبعا للسوق فإنه لا حرج فيها ولو زادت أضعافا مضافعة.

“Tambahan ini tidak mengapa dan tidak masalah. Kaum muslimin sejak dahulu sudah mempraktikkan hal ini dalam jual-beli mereka. Mereka membeli barang dan menunggu penambahan nilainya. Bisa jadi mereka membeli barang untuk mereka gunakan sendiri, kemudian ketika harganya naik cukup tinggi maka mereka melihat kesempatan itu untuk menjualnya walaupun sebelumnya tidak ada niat sama sekali untuk menjualnya. Intinya adalah bahwa penambahan nilai tersebut, selama ia mengikuti harga pasar, itu tidak masalah walaupun penambahannya sampai berlipat-lipat.” [Fatawa Islamiyyah, karya Muhammad ibn ‘Abdil-‘Aziz al-Musnad, 2/358]

@ Dago, Bandung, 9 Ramadhan 1440 H

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief

Artikel andylatief.net

Artikel Terkait

Leave a Reply